Ramai Terkejut melihat Kelibat Paderi Ini Sanggup Tunggu Jenazah Lelaki Islam Ini Dari Solat Jenazah Sehingga Pengebumian. Bila Ditanya Kenapa, Alangkah Terkejutnya Rupa2nya Jenazah Seorang yang…

Loading...

Rakan baik Kassim Ahmad iaitu Tan Sri Murphy Pakiam, yang bekas archbishop Kuala Lumpur mengunjungi masjid selepas kematian cendekiawan itu tempoh hari, di Masjid Al-Huda.

Pemimpin komuniti Kristian itu pernah berjiran dengan Kassim di Bukit Gelugor, Pulau Pinang pada 1960-an, dan sangat rapat dengan keluarga cendekiawan itu.

Beliau tampil memakai pakaian rasmi paderi untuk melihat upacara solat jenazah sebelum pengebumian Kassim.

 

Kemudian, Pakiam menunggu jemaah menjalani solat maghrib dan duduk bersama mereka dalam sesi bacaan Al-Fatihah untuk Kassim.

 

Beliau kemudian menemani waris menyaksikan pengebumian Kassim di perkuburan yang terletak di belakang masjid.

Pakiam ketika ditemui pemberita berkata keluarganya mempunyai sejarah yang panjang dengan keluarga Kassim semasa beliau menjadi seorang pensyarah dan kemudian rektor di Seminari Tinggi Katolik di Pulau Tikus.

 

“Rumah kami bersebelahan dengan rumah Kassim di Jalan Bunga Raya. Saya dan adik saya, Betty, sangat rapat dengan beliau dan keluarganya,” kata Pakiam.

Di matanya, Kassim seorang ahli akademi yang sangat berterus-terang dan berani menyuarakan buah fikiran sendiri.

“Kassim sangat memahami Al-Quran, dan sebagai seorang sosialis, beliau menafsirkan Al-Quran dalam kerangka sosialis.

“Beliau juga seseorang yang merasakan wajib berkhidmat kepada rakyat. Saya meratapi pemergian beliau bersama ahli keluarganya, dan saya harap beliau aman di sana,” kata Pakiam.

 

Kassim dikebumikan di perkuburan Masjid Al-Huda di Jalan Kilang Lama, Kulim pada 7.32 petang oleh Sukarelawan PAS selepas pihak masjid enggan menguruskan jenazah.

 

Menurut sumber, penolakkan oleh pihak masjid bukan kerana ‘Akidah Kassim’, tetapi pihaknya tidak boleh menerima jenazah Kassim kerana arwah bukan daripada kariah masjid berkenaan.

Sumber:http://viralism.org

 

Pelik Tapi Benar ! Tidak Tahu Dirinya Sudah Meninggal Dunia , Wanita Ini Masih Memasak Untuk Anaknya … Tetapi Anaknya … Sedihhhhh

Kehidupan di alam gaib memang sulit dipercayai oleh banyak orang. Tapi 1 hal yang dipercayai orang kuno, cinta seorang ibu itu bisa menembus bahkan sampai ke alam gaib.

Chun-Lan adalah seorang ibu beranak 1 yang hidup hanya berdua dengan anaknya setelah dia bercerai dengan suaminya. Anaknya yang saat ini SMA tinggal di asrama sekolah. Demi memenuhi kebutuhan anaknya, Chun-Lan bekerja sebagai pedagang mie di pinggir jalan. Bekerja dari pagi sampai malam, tanpa kenal lelah dia berjuang keras.

Suatu hari saat matahari belum terbit, Chun-Lan sudah menuju ke gerobaknya untuk mempersiapkan gerobak mienya. Tidak lama kemudian, datanglah 2 orang yang perawakannya tinggi. Orang yang 1 mengenakan gaun putih bersih dengan topi yang cukup panjang. Orang yang lain berpakaian sama, hanya saja warna gaunnya hitam. Wajahnya tampak tak berekspresi.

Chun-Lan tertawa. Dalam hatinya dia berpikir, “Haha di musim begini kok bisa ada orang yang pakaiannya kayak gitu.” Kedua orang itu masuk tanpa berkata-kata, kemudian duduk di tempat Chun-Lan berjualan. Setelah beberapa saat, pria berbaju putih kemudian berkata, “Waktu masih pagi, perutku lapar, boleh saya pesan semangkuk mie?” Katanya pada Chun-Lan. Pria berbaju hitam juga mengangguk tanpa berkata apa-apa.

Chun-Lan kemudian mengangguk dan memasakkan mie bagi kedua pria ini. Mereka memakan mie yang ada di hadapan mereka sampai habis, bahkan sampai ke kuah-kuahnya.

Pria berbaju putih kemudian membersihkan bibirnya dan memuji, “Enak, enak. Mie buatanmu luar biasa. Sampai disana, kamu buatkan kami 2 mangkuk lagi, nanti saya puji kamu di depan Raja.”

Chun-Lan ingin tertawa, tapi dia menahannya. Dia hanya bertanya, “Disana dimana? Bukankah kamu sudah makan hari ini?”

Pria berjubah hitam kemudian membuka mulutnya, “Disana itu, di alam lain. Kami datang untuk membawa kamu ke sana.”

Chun-Lan kemudian tertawa dan tidak percaya dengan perkataan yang kedua orang ini katakan.

Pria berbaju putih kemudian berkata, “Kamu nggak percaya kalau kamu sudah mati? Kamu boleh pergi ke perempatan itu dan melihat siapa yang tergeletak disana.”

Chun-Lan dengan penuh kebingungan pergi ke perempatan di dekat tokonya itu dan melihat sesuatu yang membuatnya kaget bukan main.

Saat itu hari belum pagi. Matahari belum terbit dan Chun-Lan tiba di ujung perempatan. Dia melihat sebuah mobil polisi dan mobil ambulans, beserta dengan sebuah mobil pengangkut semen yang besar. Di sampingnya tergeletak sebuah sepeda yang dia kenal dan sosok seorang wanita yang dia kenal sangat baik. Itu adalah dirinya sendiri. Dia kemudian ingat, waktu itu dia sedang berangkat ke arah tokonya dan tiba-tiba mobil pengangkut semen itu kehilangan kendali dan menabraknya. Kecelakaan terjadi dan Chun-Lan meninggal di tempat. Chun-Lan merasa sedih. Dia tidak rela meninggalkan segala sesuatu, apalagi putranya.

Pria berbaju putih kemudian berkata, “Waktunya sudah tiba, ayo jalan.”

Dengan penuh kesedihan, Chun-Lan memohon, “Tuan, saya mohon, boleh nggak izinkan saya melihat anak saya untuk yang terakhir kalinya? Izinkan saya untuk memasak masakan terakhir untuk dia…. Saya mohon…”

Para pria itu kemudian saling menengok dan mengangguk setuju.

Dibawah tuntunan kedua pria itu, Chun-Lan tiba di sekolah putranya dan melihat dia sedang belajar dengan sangat rajin. Chun-Lan langsung menangis, tapi anaknya tidak bisa melihatnya. Dia pun kemudian meninggalkan tempat itu. Sepulangnya ke rumah, Chun-Lan memasak banyak sekali makanan enak favorit anaknya. Dari daging sampai telur semuanya ada. Sangat mewah. Itu adalah masakan terakhir yang bisa Chun-Lan berikan untuk anaknya. Sayangnya setelah semuanya selesai, dia tidak bisa menunggu anaknya pulang. Dia hanya bisa memandangi meja yang penuh dengan makanan sambil mengingat putranya. Chun-Lan pun pergi.

Setelah putranya pulang, dia berteriak, “Ma, kamu kapan pulang? Hari ini nggak jualan? Sayurnya banyak banget!”

Sesaat kemudian dia melihat sosok ayahnya berjalan dari pintu, memeluk anaknya dan berkata, “Nak, maaf. Mama kamu pergi ke luar negeri dan mungkin sangat lama baru bisa kembali… Ini masakan yang mama masakin buat kamu. Dia nggak bisa nunggu kamu pulang, dan memintaku untuk datang temani kamu. Lain kali, papa yang akan masak buat kamu…”

Tanpa tahu apa-apa, putranya berkata, “Pa, kok kamu bisa ada disini? Kapan pulang?”

Papanya hanya bisa menjawab, “Dulu mama yang selalu menjaga kamu, sekarang papa yang akan menjaga kamu.”

“Oke!” Katanya sambil tersenyum, makan masakan terakhir yang disajikan oleh almarhum ibunya.

Kasih ibu benar-benar sepanjang masa! Bahkan sampai menembus ruang dan waktu, menembus dunia arwah. Seorang ibu tidak akan tega meninggalkan anaknya sendirian. Bahkan sampai setelah meninggal, hal yang dipikirkan oleh Chun-Lan adalah anaknya, dan hal terakhir yang dia lakukan adalah memasak untuk anaknya… Mama, terima kasih untuk cinta yang selalu ada buat kami…

sumber

Loading...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *